Feb 11, 2012

Tragedi Insomnia dan Kopi Kejujuran (part 1)

Ini sudah hampir pukul satu dini hari. Saya benar-benar tidak bisa mengistirahatkan pikiran saya, dan karena pikiran adalah segalanya bagi tubuh saya, matapun dituntut harus ikut melayaninya. 
Ini dia, dia malah mengajak minum kopi dan mengobrol kesana kemari. Ah, saya ingat tadi saya memang minum kopi. Kopi hitam yang sangat pekat. Luwak tanpa gula. Ternyata ini punya efek yang besar pada kinerja otak saya. Saya minum kopi di saat yang salah. Salah karena saya butuh tubuh saya yang segar besok pagi-pagi sekali.
Apa ini? dia malah menanyai kabar saya hari ini. Ingin tau dia rupanya apakah saya sudah merindukan laki-laki itu. Ah, saya memang menanti pesan singkat darinya di ponsel saya. Saya memang menahan senyum ketika ponsel saya tiba-tiba berbunyi mengagetkan. Membalas cepat dengan pesan seperti tidak peduli, seperti yang biasa saya lakukan.
Ah, dia bilang inilah kenapa dia ingin terus mengajak saya berbicara. Saya hanya bergaya tidak peduli. Padahal pikiran saya berkelana bersama orang itu. Itu katanya... benarkah begitu?
Orang bilang, lebih menyakitkan bila kamu tau perasaanmu tapi kamu tidak bisa mengatakannya, daripada kamu sama sekali tidak tau perasaanmu sebenarnya. Lalu, bagaimana dengan saya yang tidak bisa mengatakan perasaan saya karena saya tidak tau bagaimana rasanya?
Sudahlah kantuk, tidak cukupkah seharian ini kamu bepergian? Simpan ini untuk esok hari. Karena saya belum siap untuk kamu jelajahi.....
ZZZZZZZZzzzzzzzzzzzZZZZZZZZZzzzzzzzzzzzzzzzzzZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz............................ZZZZZZZZZZZZZzzzzzzzzzzzZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz................................................................................................................................
........................
...............................................



*Sumber gambar: google

0 comments:

Post a Comment