Feb 11, 2012

Ketika saya butuh teriakan namun yang keluar adalah tertawa miris. Ketika saya bahkan tidak bisa menerjemahkan perasaan sendiri, tapi mencoba mengerti bagaimana perasaan orang lain. Ketika saya bingung pada kondisi di dalam sini yang menyatakan pendapatnya berbeda dengan kondisi di dalam kepala. Ketika saya malah sibuk menakuti diri sendiri akan fatalnya apabila perasaan menang melebihi logika. Ketika saya ingin bilang saya peduli tapi takut membuat orang lain berharap lebih. Ketika saya merasa bahwa diam dan bersembunyi di balik ketidakpedulian itu lebih aman dan jauh lebih berperasaan. Ketika akhirnya saya tidak berbuat apa-apa lagi, dan membiarkan apapun itu terjadi dengan sendirinya...

0 comments:

Post a Comment