Feb 17, 2012

Berpura-pura menjadi biasa. Ini dianggap sebagai satu-satunya cara supaya tidak ada yang merasa telah-menjadi-istimewa. Jawaban itu sudah menggantung di langit-langit mulut, meminta untuk ditunjukkan kepada yang harus menerimanya. Tapi, karena berpura-pura biasa adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan hati siapapun, maka ia akan tetap tergantung di sana. Ketika nanti yang harus menerima jawaban sudah lelah menunggu, maka dia tidak akan disalahkan. Jika memang harus begitu, begitu saja. Sudah diputuskan sejak awal, bahwa semuanya memang hanya akan menunggu. Menunggu terjadi dengan sendirinya. Apapun itu.

Feb 11, 2012

Tragedi Insomnia dan Kopi Kejujuran (part 1)

Ini sudah hampir pukul satu dini hari. Saya benar-benar tidak bisa mengistirahatkan pikiran saya, dan karena pikiran adalah segalanya bagi tubuh saya, matapun dituntut harus ikut melayaninya. 
Ini dia, dia malah mengajak minum kopi dan mengobrol kesana kemari. Ah, saya ingat tadi saya memang minum kopi. Kopi hitam yang sangat pekat. Luwak tanpa gula. Ternyata ini punya efek yang besar pada kinerja otak saya. Saya minum kopi di saat yang salah. Salah karena saya butuh tubuh saya yang segar besok pagi-pagi sekali.
Apa ini? dia malah menanyai kabar saya hari ini. Ingin tau dia rupanya apakah saya sudah merindukan laki-laki itu. Ah, saya memang menanti pesan singkat darinya di ponsel saya. Saya memang menahan senyum ketika ponsel saya tiba-tiba berbunyi mengagetkan. Membalas cepat dengan pesan seperti tidak peduli, seperti yang biasa saya lakukan.
Ah, dia bilang inilah kenapa dia ingin terus mengajak saya berbicara. Saya hanya bergaya tidak peduli. Padahal pikiran saya berkelana bersama orang itu. Itu katanya... benarkah begitu?
Orang bilang, lebih menyakitkan bila kamu tau perasaanmu tapi kamu tidak bisa mengatakannya, daripada kamu sama sekali tidak tau perasaanmu sebenarnya. Lalu, bagaimana dengan saya yang tidak bisa mengatakan perasaan saya karena saya tidak tau bagaimana rasanya?
Sudahlah kantuk, tidak cukupkah seharian ini kamu bepergian? Simpan ini untuk esok hari. Karena saya belum siap untuk kamu jelajahi.....
ZZZZZZZZzzzzzzzzzzzZZZZZZZZZzzzzzzzzzzzzzzzzzZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz............................ZZZZZZZZZZZZZzzzzzzzzzzzZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz................................................................................................................................
........................
...............................................



*Sumber gambar: google
Ketika saya butuh teriakan namun yang keluar adalah tertawa miris. Ketika saya bahkan tidak bisa menerjemahkan perasaan sendiri, tapi mencoba mengerti bagaimana perasaan orang lain. Ketika saya bingung pada kondisi di dalam sini yang menyatakan pendapatnya berbeda dengan kondisi di dalam kepala. Ketika saya malah sibuk menakuti diri sendiri akan fatalnya apabila perasaan menang melebihi logika. Ketika saya ingin bilang saya peduli tapi takut membuat orang lain berharap lebih. Ketika saya merasa bahwa diam dan bersembunyi di balik ketidakpedulian itu lebih aman dan jauh lebih berperasaan. Ketika akhirnya saya tidak berbuat apa-apa lagi, dan membiarkan apapun itu terjadi dengan sendirinya...

Feb 9, 2012

Pindah

Ini sesuatu yang baru buat saya? Tidak juga. Ini hanya rutinitas yang pindah tempat. Silahkan menertawakan kebiasaan saya yang hampir tidak pernah absen menulis buku harian. Bahkan setelah punya komputer dan laptop, buku harian saya tidak pernah saya tinggalkan. Tapi mungkin baru-baru ini saja, ketika halamannya sudah tidak bersisa lagi. Kenapa? Saya merasa lebih bisa sesuka hati untuk menulis di sana. Marah dengan huruf besar tidak karuan yang benar-benar terasa marah dibandingkan dengan font Times New Roman yang sangat teratur, bisa jadi paksaan untuk memberi kesan marah walaupun ditulis sebesar apapun. Efeknya juga sangat luar biasa. Melihat kertas itu robek ketika saya menuliskannya terlalu menekan, rasanya lega sekali.
Lalu kenapa saya pindah tempat? Kalau dihitung sudah dua kali. Setelah halaman buku harian saya tidak lagi bisa ditulisi, saya mulai bicara dengan perangkat keras. Melihat tulisan saya yang sudah membosankan untuk saya baca lagi, saya memutuskan untuk cari wadah baru untuk mengemasnya. Mungkin sebagian orang menganggap membaca kembali tulisan sendiri, bahkan berkali-kali seperti yang saya lakukan tidaklah penting, buang-buang waktu, atau apalah. Tapi inilah cara saya mengenal diri sendiri, melihat perkembangan pribadi dari dulu hingga sekarang, evaluasi, introspeksi. Anggaplah saya ini pelupa, maka tulisan adalah cara saya untuk mengingat bagaimana saya menjalani hidup selama ini. 
Biar begitu, dengan perpindahan ini saya harus mulai menerima diri saya diketahui orang lain. Karena apapun itu bentuknya, saya tetap merasa harus berpikir berkali-kali untuk membuka diri. Kalau dipikir-pikir saya memang hanya bisa mengandalkan media tulisan untuk ”curhat”. Kenapa? Suatu saat nanti akan saya beritahu. Mungkin. Jadi, ini murni akan berisi curhatan saya? Ya tentu saja. Tapi hey, curhat tidak melulu harus  berisi sesuatu yang g***u kan? Memang kalau orang bercerita dia sedang senang, melihat sesuatu yang menarik, bukan curhat namanya? Tapi yasudahlah.. Pelan-pelan saja, karena saya memang belum terbiasa untuk dijelajahi.....

rumah pertama saya