Sep 4, 2012

Menerima rasa manusiawi dan bumi sebagai tempat tinggal ternyata masih terlalu sulit ketika masih merasa takut terjatuh. Anehnya ada yang berharap tetap dapat tinggal di sini selamanya. 

Aug 15, 2012


Cinta itu hak semua orang. Jika ada yang bilang ingin menunggumu hingga ribuan tahun, siapa yang bisa melarang?

Jun 15, 2012

Hari Baik Untuk Menjadi Jatuh Cinta (?)


Benteng Vastenburg
(Sumber: google)

Baru sehari yang lalu, home di facebook saya dipenuhi orang-orang yang mengucapkan ”selamat Hari Purbakala”. Tidak banyak yang tau hari apa itu. Saya yakin. Saya juga bingung, bahkan di mediapun gaungnya tidak terdengar. Entah sebenarnya untuk apa peringatan itu disematkan di tiap tanggal 14 Juni. Kalau melihat istilah ”purbakala” memang jadi terkesan hanya milik instansi-instansi kepurbakalaan atau akademisi yang berkecimpung langsung dengannya. Jadi, untuk apa sok-sok’an punya peringatan segala. Seolah peringatan ini penting untuk diingat tiap tahun oleh semua masyarakat.
Melihat sejarahnya, peringatan ini lahir didasarkan pada terbentuknya institusi formal yang menangani masalah kepurbakalaan pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, yaitu  tanggal 14 Juni 1913, yang bernama Oudheidkundige Dienst in Nederlansch-Indie . Institusi inilah yang pada akhirnya melahirkan institusi-institusi kepurbakalan seperti yang sekarang kita kenal. Oke, kalau kata “kita” terlalu naïf, setidaknya hanya orang-orang yang berkepentingan yang mengenalnya. Sebagai informasi, sekarang ini namanya berubah menjadi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, atau disingkat BP3. Jadi, singkatnya tanggal ini bisa dikatakan semacam peringatan hari lahir BP3.
Lalu, apa pentingnya? Bahkan teman-teman saya yang sudah beberapa tahun hidup dengan candi dan tengkorak manusia purba saja banyak yang tidak mengetahui tanggal ini adalah Hari Purbakala. Lalu, apa ini tanggal yang penting untuk diingat? Sebenarnya ini peringaatan nasional atau tanggal “kontroversial” semacam 14 Februari? yang dalam kasus berbeda, hanya akan dianggap mempersempit kecintaan pada tinggalan purbakala dalam satu tanggal. Walaupun saya ragu, mana ada sih orang yang akan setiap hari merasa punya cinta pada tinggalan-tinggalan purbakala? Mencintai kan butuh uang, terlebih pada barang-barang purbakala semacam itu. Yahhh... jadi, tanpa tanggal ini maka akan tidak ada hari untuk mencintai pastinya ya?
Tapi, untuk apa juga diingat-ingat kalau makin tua malah makin loyo? Orang-orang yang seharusnya melindungi kepurbakalaan bahkan mulai meragukan doktrin yang selama ini dicecoki ke telinga mereka dan kembali dimuntahkan dengan cibiran. Doktrin yang mengatakan bahwa tingalan-tinggalan itu dapat memperkuat jati diri kita sebagai Bangsa Indonesia hanya akan menjadi bumerang bagi mereka yang mengatakannya. Saya pribadi ketika ditanya apa pentingnya benda-benda itu maka akan mengeluarkan jawaban yang tidak jauh berbeda dengan itu. Ini hanya penting buat saya, karena saya suka, karena saya mencintai benda-benda ini secara pribadi. Tapi pentingnya bagi negara? Hanya doktrin loyo yang bisa menjawab. Negara sudah cukup cerdas untuk bisa menghitung keuntungan yang didapat dengan menjual benda-benda itu daripada hanya mendiamkannya menjadi sarang burung dengan alasan pelestarian.  
Saya sendiri merasa, bahwa saya, kami para akademisi yang selalu berkoar-koar soal cagar budaya terlalu posesif memperlakukan benda-benda itu. Seolah kamilah pemiliknya dan tidak akan ada orang yang paham bagaimana memperlakukan benda itu, sehingga semua orang selain kami dianggap tidak tepat sebagai pengelolanya.
Lalu sebaiknya bagaimana? Tidak tahu. Sumpah, saya tidak tahu sebaiknya bagaimana. Saya sendiri posesif. Saya akan merasa lebih aman kalau bangunan-bangunan bersejarah itu didiamkan saja dibanding dialih fungsikan menjadi sesuatu. Saya tidak bisa berharap pada perawatan bangunan secara berkala, karena ya itu tadi cinta selalu butuh modal dan untuk memberikan hak perawatan pada “orang lain” yang lebih punya modal, sungguh sesuatu yang menakutkan.
Saya jadi berimajinasi mungkinkah doktrin tadi hanya sebatas alat untuk menakuti masyarakat bahwa  mereka akan kehilangan jati diri seiiring dengan rubuhnya satu persatu bangunan cagar budaya yang seharusnya dipertahankan? Dan kami, para arkeolog dan semacamnya, adalah nabi yang menjaga doktrin itu supaya tetap melandasi pembangunan di Negara kita. Well, kita tahu itu tidak akan bertahan lama. Lihat kan sekarang? Makin banyak orang ”murtad”. Nabi telah dilupakan, karena kami hanya dapat mencekoki teori-teori membosankan tanpa bentuk nyata dari apa itu pentingnya jati diri. Masalahnya menjadi terlampau sulit karena mereka tidak punya cukup cinta untuk merasa takut kehilangan. Untuk membuat orang menyukai hingga mencintai itu suatu hal yang, dengan berani saya katakan, mustahil. Bahkan Tuhan menciptakan manusia dengan kebebasan mencintai. Padahal cinta adalah modal utama yang dapat menggerakan seseorang untuk menjadi penjaga yang setia.
Lalu untuk apa tanggal ini diperingati? Tentu pertanyaan ini ditujukkan hanya kepada kami. Anggaplah kami pemuja sekte kuno yang tetap setia pada agama lama kami. Tanggal ini adalah hari raya kepercayaan kami. Setiap tanggal ini hanya kami yang punya cinta dan mengetahuinya yang bisa merenungi tanggal ini. Dan selamanya, kecuali ada yang mau menjadi penganut baru, hanya kamilah yang tetap mau menjaga jati diri kami sendiri, jati diri kalian, jati diri semua orang yang hidup di tanah Nusantara. Setidaknya sekarang kami mantab dengan ideologi kepurbakalaan kami, sebelum kami menjadi mesin kapitalis nantinya. Dan mudah-mudahan setelah nanti kami menjadi orang-orang murtad itu, masih ada sisa yang dapat dijaga oleh keturunan kami. Amiiiiinnnn...



Jun 14, 2012

...Perasaan itu gampang berubah dan mengubah segalanya. 
Si alien mencintai manusia dan mulai menerima kemanusiaannya, juga Bumi yang menjadi tempat tinggalnya...............................

Feb 17, 2012

Berpura-pura menjadi biasa. Ini dianggap sebagai satu-satunya cara supaya tidak ada yang merasa telah-menjadi-istimewa. Jawaban itu sudah menggantung di langit-langit mulut, meminta untuk ditunjukkan kepada yang harus menerimanya. Tapi, karena berpura-pura biasa adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan hati siapapun, maka ia akan tetap tergantung di sana. Ketika nanti yang harus menerima jawaban sudah lelah menunggu, maka dia tidak akan disalahkan. Jika memang harus begitu, begitu saja. Sudah diputuskan sejak awal, bahwa semuanya memang hanya akan menunggu. Menunggu terjadi dengan sendirinya. Apapun itu.

Feb 11, 2012

Tragedi Insomnia dan Kopi Kejujuran (part 1)

Ini sudah hampir pukul satu dini hari. Saya benar-benar tidak bisa mengistirahatkan pikiran saya, dan karena pikiran adalah segalanya bagi tubuh saya, matapun dituntut harus ikut melayaninya. 
Ini dia, dia malah mengajak minum kopi dan mengobrol kesana kemari. Ah, saya ingat tadi saya memang minum kopi. Kopi hitam yang sangat pekat. Luwak tanpa gula. Ternyata ini punya efek yang besar pada kinerja otak saya. Saya minum kopi di saat yang salah. Salah karena saya butuh tubuh saya yang segar besok pagi-pagi sekali.
Apa ini? dia malah menanyai kabar saya hari ini. Ingin tau dia rupanya apakah saya sudah merindukan laki-laki itu. Ah, saya memang menanti pesan singkat darinya di ponsel saya. Saya memang menahan senyum ketika ponsel saya tiba-tiba berbunyi mengagetkan. Membalas cepat dengan pesan seperti tidak peduli, seperti yang biasa saya lakukan.
Ah, dia bilang inilah kenapa dia ingin terus mengajak saya berbicara. Saya hanya bergaya tidak peduli. Padahal pikiran saya berkelana bersama orang itu. Itu katanya... benarkah begitu?
Orang bilang, lebih menyakitkan bila kamu tau perasaanmu tapi kamu tidak bisa mengatakannya, daripada kamu sama sekali tidak tau perasaanmu sebenarnya. Lalu, bagaimana dengan saya yang tidak bisa mengatakan perasaan saya karena saya tidak tau bagaimana rasanya?
Sudahlah kantuk, tidak cukupkah seharian ini kamu bepergian? Simpan ini untuk esok hari. Karena saya belum siap untuk kamu jelajahi.....
ZZZZZZZZzzzzzzzzzzzZZZZZZZZZzzzzzzzzzzzzzzzzzZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz............................ZZZZZZZZZZZZZzzzzzzzzzzzZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz................................................................................................................................
........................
...............................................



*Sumber gambar: google
Ketika saya butuh teriakan namun yang keluar adalah tertawa miris. Ketika saya bahkan tidak bisa menerjemahkan perasaan sendiri, tapi mencoba mengerti bagaimana perasaan orang lain. Ketika saya bingung pada kondisi di dalam sini yang menyatakan pendapatnya berbeda dengan kondisi di dalam kepala. Ketika saya malah sibuk menakuti diri sendiri akan fatalnya apabila perasaan menang melebihi logika. Ketika saya ingin bilang saya peduli tapi takut membuat orang lain berharap lebih. Ketika saya merasa bahwa diam dan bersembunyi di balik ketidakpedulian itu lebih aman dan jauh lebih berperasaan. Ketika akhirnya saya tidak berbuat apa-apa lagi, dan membiarkan apapun itu terjadi dengan sendirinya...

Feb 9, 2012

Pindah

Ini sesuatu yang baru buat saya? Tidak juga. Ini hanya rutinitas yang pindah tempat. Silahkan menertawakan kebiasaan saya yang hampir tidak pernah absen menulis buku harian. Bahkan setelah punya komputer dan laptop, buku harian saya tidak pernah saya tinggalkan. Tapi mungkin baru-baru ini saja, ketika halamannya sudah tidak bersisa lagi. Kenapa? Saya merasa lebih bisa sesuka hati untuk menulis di sana. Marah dengan huruf besar tidak karuan yang benar-benar terasa marah dibandingkan dengan font Times New Roman yang sangat teratur, bisa jadi paksaan untuk memberi kesan marah walaupun ditulis sebesar apapun. Efeknya juga sangat luar biasa. Melihat kertas itu robek ketika saya menuliskannya terlalu menekan, rasanya lega sekali.
Lalu kenapa saya pindah tempat? Kalau dihitung sudah dua kali. Setelah halaman buku harian saya tidak lagi bisa ditulisi, saya mulai bicara dengan perangkat keras. Melihat tulisan saya yang sudah membosankan untuk saya baca lagi, saya memutuskan untuk cari wadah baru untuk mengemasnya. Mungkin sebagian orang menganggap membaca kembali tulisan sendiri, bahkan berkali-kali seperti yang saya lakukan tidaklah penting, buang-buang waktu, atau apalah. Tapi inilah cara saya mengenal diri sendiri, melihat perkembangan pribadi dari dulu hingga sekarang, evaluasi, introspeksi. Anggaplah saya ini pelupa, maka tulisan adalah cara saya untuk mengingat bagaimana saya menjalani hidup selama ini. 
Biar begitu, dengan perpindahan ini saya harus mulai menerima diri saya diketahui orang lain. Karena apapun itu bentuknya, saya tetap merasa harus berpikir berkali-kali untuk membuka diri. Kalau dipikir-pikir saya memang hanya bisa mengandalkan media tulisan untuk ”curhat”. Kenapa? Suatu saat nanti akan saya beritahu. Mungkin. Jadi, ini murni akan berisi curhatan saya? Ya tentu saja. Tapi hey, curhat tidak melulu harus  berisi sesuatu yang g***u kan? Memang kalau orang bercerita dia sedang senang, melihat sesuatu yang menarik, bukan curhat namanya? Tapi yasudahlah.. Pelan-pelan saja, karena saya memang belum terbiasa untuk dijelajahi.....

rumah pertama saya