![]() |
| Benteng Vastenburg (Sumber: google) |
Baru sehari yang
lalu, home di facebook saya dipenuhi orang-orang yang mengucapkan ”selamat Hari Purbakala”.
Tidak banyak yang tau hari apa itu. Saya yakin. Saya juga bingung, bahkan di mediapun
gaungnya tidak terdengar. Entah sebenarnya untuk apa peringatan itu disematkan di
tiap tanggal 14 Juni. Kalau melihat istilah ”purbakala” memang jadi terkesan
hanya milik instansi-instansi kepurbakalaan atau akademisi yang berkecimpung
langsung dengannya. Jadi, untuk apa sok-sok’an punya peringatan segala. Seolah
peringatan ini penting untuk diingat tiap tahun oleh semua masyarakat.
Melihat sejarahnya,
peringatan ini lahir didasarkan
pada terbentuknya institusi formal yang menangani masalah kepurbakalaan pada
masa pemerintahan Kolonial Belanda, yaitu tanggal 14 Juni 1913, yang bernama Oudheidkundige Dienst in Nederlansch-Indie .
Institusi inilah yang pada akhirnya melahirkan institusi-institusi kepurbakalan
seperti yang sekarang kita kenal. Oke, kalau kata “kita” terlalu naïf, setidaknya
hanya orang-orang yang berkepentingan yang mengenalnya. Sebagai informasi, sekarang
ini namanya berubah menjadi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, atau
disingkat BP3. Jadi, singkatnya tanggal ini bisa dikatakan semacam peringatan
hari lahir BP3.
Lalu, apa pentingnya? Bahkan teman-teman
saya yang sudah beberapa tahun hidup dengan candi dan tengkorak manusia purba
saja banyak yang tidak mengetahui tanggal ini adalah Hari Purbakala. Lalu, apa ini
tanggal yang penting untuk diingat? Sebenarnya ini peringaatan nasional atau
tanggal “kontroversial” semacam 14 Februari? yang dalam kasus berbeda, hanya
akan dianggap mempersempit kecintaan pada tinggalan purbakala dalam satu
tanggal. Walaupun saya ragu, mana ada sih orang yang akan setiap hari merasa
punya cinta pada tinggalan-tinggalan purbakala? Mencintai kan butuh uang,
terlebih pada barang-barang purbakala semacam itu. Yahhh... jadi, tanpa tanggal
ini maka akan tidak ada hari untuk mencintai pastinya ya?
Tapi, untuk apa juga diingat-ingat
kalau makin tua malah makin loyo? Orang-orang yang seharusnya melindungi
kepurbakalaan bahkan mulai meragukan doktrin yang selama ini dicecoki ke
telinga mereka dan kembali dimuntahkan dengan cibiran. Doktrin yang mengatakan
bahwa tingalan-tinggalan itu dapat memperkuat jati diri kita sebagai Bangsa
Indonesia hanya akan menjadi bumerang bagi mereka yang mengatakannya. Saya pribadi
ketika ditanya apa pentingnya benda-benda itu maka akan mengeluarkan jawaban
yang tidak jauh berbeda dengan itu. Ini hanya penting buat saya, karena saya suka,
karena saya mencintai benda-benda ini secara pribadi. Tapi pentingnya bagi negara?
Hanya doktrin loyo yang bisa menjawab. Negara sudah cukup cerdas untuk bisa menghitung
keuntungan yang didapat dengan menjual benda-benda itu daripada hanya
mendiamkannya menjadi sarang burung dengan alasan pelestarian.
Saya sendiri merasa, bahwa saya, kami
para akademisi yang selalu berkoar-koar soal cagar budaya terlalu posesif
memperlakukan benda-benda itu. Seolah kamilah pemiliknya dan tidak akan ada
orang yang paham bagaimana memperlakukan benda itu, sehingga semua orang selain
kami dianggap tidak tepat sebagai pengelolanya.
Lalu sebaiknya bagaimana? Tidak tahu. Sumpah,
saya tidak tahu sebaiknya bagaimana. Saya sendiri posesif. Saya akan merasa
lebih aman kalau bangunan-bangunan bersejarah itu didiamkan saja dibanding dialih
fungsikan menjadi sesuatu. Saya tidak bisa berharap pada perawatan bangunan
secara berkala, karena ya itu tadi cinta selalu butuh modal dan untuk
memberikan hak perawatan pada “orang lain” yang lebih punya modal, sungguh sesuatu yang menakutkan.
Saya jadi berimajinasi mungkinkah
doktrin tadi hanya sebatas alat untuk menakuti masyarakat bahwa mereka akan kehilangan jati diri seiiring
dengan rubuhnya satu persatu bangunan cagar budaya yang seharusnya
dipertahankan? Dan kami, para arkeolog dan semacamnya, adalah nabi yang menjaga
doktrin itu supaya tetap melandasi pembangunan di Negara kita. Well, kita tahu
itu tidak akan bertahan lama. Lihat kan sekarang? Makin banyak orang ”murtad”.
Nabi telah dilupakan, karena kami hanya dapat mencekoki teori-teori membosankan
tanpa bentuk nyata dari apa itu pentingnya jati diri. Masalahnya menjadi terlampau
sulit karena mereka tidak punya cukup cinta untuk merasa takut kehilangan. Untuk membuat orang menyukai hingga
mencintai itu suatu hal yang, dengan berani saya katakan, mustahil. Bahkan Tuhan
menciptakan manusia dengan kebebasan mencintai. Padahal cinta adalah modal utama
yang dapat menggerakan seseorang untuk menjadi penjaga yang setia.
Lalu untuk apa
tanggal ini diperingati? Tentu pertanyaan ini ditujukkan hanya kepada kami. Anggaplah
kami pemuja sekte kuno yang tetap setia pada agama lama kami. Tanggal ini
adalah hari raya kepercayaan kami. Setiap tanggal ini hanya kami yang punya
cinta dan mengetahuinya yang bisa merenungi tanggal ini. Dan selamanya, kecuali
ada yang mau menjadi penganut baru, hanya kamilah yang tetap mau menjaga jati
diri kami sendiri, jati diri kalian, jati diri semua orang yang hidup di tanah
Nusantara. Setidaknya sekarang kami mantab dengan ideologi kepurbakalaan kami,
sebelum kami menjadi mesin kapitalis nantinya. Dan mudah-mudahan setelah nanti
kami menjadi orang-orang murtad itu, masih ada sisa yang dapat dijaga oleh
keturunan kami. Amiiiiinnnn...
