Jun 15, 2012

Hari Baik Untuk Menjadi Jatuh Cinta (?)


Benteng Vastenburg
(Sumber: google)

Baru sehari yang lalu, home di facebook saya dipenuhi orang-orang yang mengucapkan ”selamat Hari Purbakala”. Tidak banyak yang tau hari apa itu. Saya yakin. Saya juga bingung, bahkan di mediapun gaungnya tidak terdengar. Entah sebenarnya untuk apa peringatan itu disematkan di tiap tanggal 14 Juni. Kalau melihat istilah ”purbakala” memang jadi terkesan hanya milik instansi-instansi kepurbakalaan atau akademisi yang berkecimpung langsung dengannya. Jadi, untuk apa sok-sok’an punya peringatan segala. Seolah peringatan ini penting untuk diingat tiap tahun oleh semua masyarakat.
Melihat sejarahnya, peringatan ini lahir didasarkan pada terbentuknya institusi formal yang menangani masalah kepurbakalaan pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, yaitu  tanggal 14 Juni 1913, yang bernama Oudheidkundige Dienst in Nederlansch-Indie . Institusi inilah yang pada akhirnya melahirkan institusi-institusi kepurbakalan seperti yang sekarang kita kenal. Oke, kalau kata “kita” terlalu naïf, setidaknya hanya orang-orang yang berkepentingan yang mengenalnya. Sebagai informasi, sekarang ini namanya berubah menjadi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, atau disingkat BP3. Jadi, singkatnya tanggal ini bisa dikatakan semacam peringatan hari lahir BP3.
Lalu, apa pentingnya? Bahkan teman-teman saya yang sudah beberapa tahun hidup dengan candi dan tengkorak manusia purba saja banyak yang tidak mengetahui tanggal ini adalah Hari Purbakala. Lalu, apa ini tanggal yang penting untuk diingat? Sebenarnya ini peringaatan nasional atau tanggal “kontroversial” semacam 14 Februari? yang dalam kasus berbeda, hanya akan dianggap mempersempit kecintaan pada tinggalan purbakala dalam satu tanggal. Walaupun saya ragu, mana ada sih orang yang akan setiap hari merasa punya cinta pada tinggalan-tinggalan purbakala? Mencintai kan butuh uang, terlebih pada barang-barang purbakala semacam itu. Yahhh... jadi, tanpa tanggal ini maka akan tidak ada hari untuk mencintai pastinya ya?
Tapi, untuk apa juga diingat-ingat kalau makin tua malah makin loyo? Orang-orang yang seharusnya melindungi kepurbakalaan bahkan mulai meragukan doktrin yang selama ini dicecoki ke telinga mereka dan kembali dimuntahkan dengan cibiran. Doktrin yang mengatakan bahwa tingalan-tinggalan itu dapat memperkuat jati diri kita sebagai Bangsa Indonesia hanya akan menjadi bumerang bagi mereka yang mengatakannya. Saya pribadi ketika ditanya apa pentingnya benda-benda itu maka akan mengeluarkan jawaban yang tidak jauh berbeda dengan itu. Ini hanya penting buat saya, karena saya suka, karena saya mencintai benda-benda ini secara pribadi. Tapi pentingnya bagi negara? Hanya doktrin loyo yang bisa menjawab. Negara sudah cukup cerdas untuk bisa menghitung keuntungan yang didapat dengan menjual benda-benda itu daripada hanya mendiamkannya menjadi sarang burung dengan alasan pelestarian.  
Saya sendiri merasa, bahwa saya, kami para akademisi yang selalu berkoar-koar soal cagar budaya terlalu posesif memperlakukan benda-benda itu. Seolah kamilah pemiliknya dan tidak akan ada orang yang paham bagaimana memperlakukan benda itu, sehingga semua orang selain kami dianggap tidak tepat sebagai pengelolanya.
Lalu sebaiknya bagaimana? Tidak tahu. Sumpah, saya tidak tahu sebaiknya bagaimana. Saya sendiri posesif. Saya akan merasa lebih aman kalau bangunan-bangunan bersejarah itu didiamkan saja dibanding dialih fungsikan menjadi sesuatu. Saya tidak bisa berharap pada perawatan bangunan secara berkala, karena ya itu tadi cinta selalu butuh modal dan untuk memberikan hak perawatan pada “orang lain” yang lebih punya modal, sungguh sesuatu yang menakutkan.
Saya jadi berimajinasi mungkinkah doktrin tadi hanya sebatas alat untuk menakuti masyarakat bahwa  mereka akan kehilangan jati diri seiiring dengan rubuhnya satu persatu bangunan cagar budaya yang seharusnya dipertahankan? Dan kami, para arkeolog dan semacamnya, adalah nabi yang menjaga doktrin itu supaya tetap melandasi pembangunan di Negara kita. Well, kita tahu itu tidak akan bertahan lama. Lihat kan sekarang? Makin banyak orang ”murtad”. Nabi telah dilupakan, karena kami hanya dapat mencekoki teori-teori membosankan tanpa bentuk nyata dari apa itu pentingnya jati diri. Masalahnya menjadi terlampau sulit karena mereka tidak punya cukup cinta untuk merasa takut kehilangan. Untuk membuat orang menyukai hingga mencintai itu suatu hal yang, dengan berani saya katakan, mustahil. Bahkan Tuhan menciptakan manusia dengan kebebasan mencintai. Padahal cinta adalah modal utama yang dapat menggerakan seseorang untuk menjadi penjaga yang setia.
Lalu untuk apa tanggal ini diperingati? Tentu pertanyaan ini ditujukkan hanya kepada kami. Anggaplah kami pemuja sekte kuno yang tetap setia pada agama lama kami. Tanggal ini adalah hari raya kepercayaan kami. Setiap tanggal ini hanya kami yang punya cinta dan mengetahuinya yang bisa merenungi tanggal ini. Dan selamanya, kecuali ada yang mau menjadi penganut baru, hanya kamilah yang tetap mau menjaga jati diri kami sendiri, jati diri kalian, jati diri semua orang yang hidup di tanah Nusantara. Setidaknya sekarang kami mantab dengan ideologi kepurbakalaan kami, sebelum kami menjadi mesin kapitalis nantinya. Dan mudah-mudahan setelah nanti kami menjadi orang-orang murtad itu, masih ada sisa yang dapat dijaga oleh keturunan kami. Amiiiiinnnn...



Jun 14, 2012

...Perasaan itu gampang berubah dan mengubah segalanya. 
Si alien mencintai manusia dan mulai menerima kemanusiaannya, juga Bumi yang menjadi tempat tinggalnya...............................